Artikel
MOMENTUM pesta demokrasi seringkali dianggap sebagai panggung politik semata, namun bagi Indrawanto Paningaran, hal ini adalah ladang pengabdian yang suci. Sebagai Anggota Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Luwu Timur yang juga kader Persekutuan Pemuda Gereja Toraja (PPGT) Jemaat Bukit Tamalanrea saat berkuliah di Makassar, Indra sapaan akrabnya menekankan bahwa peran pemuda gereja adalah kunci integritas pemilu.
Indra menegaskan bahwa keterlibatan pemuda dalam politik bukanlah tentang perebutan kekuasaan, melainkan wujud nyata dari tanggung jawab iman dalam berbangsa. Menurutnya, pemuda gereja harus menjadi "garam dan terang" di tengah hiruk-pikuk kontestasi politik yang seringkali memanas.
"Demokrasi kita membutuhkan mesin penggerak yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual. Pemuda gereja harus hadir sebagai katalisator yang membawa damai dan kebenaran di setiap tahapan pemilu," ujar Indra saat memberikan refleksi terkait peran pemuda dalam demokrasi.
Langkah konkret pertama yang ia soroti adalah transformasi peran menjadi pemilih cerdas. Indra mengajak pemuda untuk mengedukasi jemaat agar tidak memilih hanya berdasarkan kedekatan emosional atau primordial, melainkan wajib membedah rekam jejak (track record) setiap kandidat secara bijak.
"Kita tidak boleh lagi memilih 'kucing dalam karung'. Pemuda gereja harus mampu menjadi navigator bagi jemaat dalam memilah mana pemimpin yang benar-benar memiliki integritas, bukan sekadar mereka yang datang saat butuh suara," tegas pria yang aktif di PPGT Bukit Tamalanrea ini.
Kedua, Indra memberikan atensi khusus pada edukasi anti-golput. Sebagai komisioner KPU, ia memandang hak pilih sebagai kedaulatan rakyat yang harus dijaga. Ia mendorong warga gereja untuk menggunakan hak pilihnya sesuai dengan ketentuan perundang-undangan sebagai bentuk ketaatan pada negara.
Selain itu, Indra mendorong pemuda untuk rajin menghidupkan ruang-ruang literasi demokrasi. Melalui forum diskusi baik di internal gereja maupun di tengah masyarakat umum, isu-isu krusial kepemiluan dapat dibedah secara mendalam sehingga jemaat tidak menjadi objek politik semata.
"Literasi adalah vaksin melawan manipulasi politik. Jika pemuda gereja rajin berdiskusi dan membaca, maka jemaat akan memiliki imunitas terhadap janji-janji palsu," tambahnya dengan nada optimis.
Langkah praktis lainnya adalah keterlibatan langsung sebagai penyelenggara atau pengawas pemilu. Indra memotivasi rekan-rekan pemudanya untuk ikut mengambil bagian dalam struktur badan Ad Hoc, guna memastikan setiap suara rakyat dijaga dengan kejujuran yang maksimal.
Sebagai komisioner, ia pun mengingatkan pentingnya sikap kritis terhadap kebijakan publik. Pemuda gereja diharapkan menjadi motor penggerak yang menyuarakan kepentingan umum dan mengawal jalannya pemerintahan agar tetap berpihak pada keadilan sosial bagi seluruh rakyat.
Indra juga menyentuh isu krusial di era digital, yakni perlawanan terhadap berita hoaks. Pemuda gereja, menurutnya, harus menjadi penyaring informasi agar narasi-narasi menyesat terkait demokrasi tidak merusak kerukunan antarumat beragama yang selama ini terjaga.
"Hoaks adalah musuh demokrasi yang nyata. Tugas kita adalah memastikan bahwa informasi yang sampai ke jemaat adalah kebenaran, bukan provokasi yang memecah belah," kata Indra.
Terakhir, ia mengajak pemuda untuk bersedia menjadi pemantau pemilu. Dengan adanya pengawasan dari unsur pemuda yang berlandaskan iman, potensi kecurangan di lapangan dapat ditekan, sehingga hasil pemilu memiliki legitimasi yang kokoh di mata Tuhan dan manusia.
Bagi Indra, perannya di KPU Luwu Timur dan identitasnya sebagai kader PPGT Bukit Tamalanrea adalah dua hal yang saling melengkapi. Keduanya menuntut standar integritas yang sama tinggi demi tegaknya kebenaran dalam proses suksesi kepemimpinan.
Indra meyakini bahwa keterlibatan aktif ini akan membentuk karakter generasi muda yang peduli dan tangguh. Ia menekankan bahwa politik yang bersih dimulai dari individu-individu yang mau terlibat dan tidak lagi bersikap apatis terhadap keadaan bangsa.
Menutup pernyataannya, Indra berharap sinergi antara pemuda gereja dan elemen masyarakat lainnya dapat mewujudkan pemilu yang berkualitas. Ia optimis bahwa partisipasi yang berlandaskan iman akan membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih cerah dan bermartabat.